Kajian Islam

ISLAM DAN GLOBALIS

Globalisasi memberikan dampak besar bagi Indonesia, termasuk dalam aspek ekonomi, sosial politik, hingga keamanan. Hal ini tertuang dalam buku yang diterbitkan Insitute of Southeast Asian Studies (ISEAS) dengan judul Indonesia and the New World: globalization, nationalism and sovereignty.

Dimensi globalisasi saat ini semakin kompleks dan rumit, seperti pisau bermata dua. Globalisasi meningkatkan akses untuk memperbaiki taraf hidup dan juga meningkatkan kepekaan, memberi manfaat melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi, kenaikan pendapatan per kapita dan penurunan kemiskinan. Reformasi Perdagangan ke depan lebih susah tak terbendung dan bahkan menjadi semacam kebutuhan pokok sehari-hari, antara lain ketika manusia di pelbagai pelosok dunia terhubung secara instan lewat media sosial.

Di lain pihak, globalisasi juga telah meningkatkan kepekaan suatu negara kepada berbagai guncangan dan dampak negatif globalisasi. Munculnya sentimen anti-globalisasi meningkat, pemicunya antara lain pengalaman pahit akibat krisis keuangan dunia serta ketimpangan ekonomi yang semakin lebar di depan mata karena keuntungan dari globalisasi tidak merata.

Manifestasi dari pilihan tersebut berujung pada kebijakan-kebijakan yang umumnya cenderung lebih bersifat populis dan isolasionis sebagai upaya melindungi diri dari dampak globalisasi dan atas nama kedaulatan. Dalam beberapa hal, fenomena ini juga terasa di Indonesia. Berbagai kebijakan serta diskursus publik diwarnai oleh semangat anti-globalisme.

Dalam hal ekonomi, proteksionisme dan nasionalisme kembali meningkat dan penolakan atas ‘pengaruh asing’ dimanifestasikan ke dalam kebijakan seperti pelarangan impor atas nama swasembada, dan restriksi di bidang investasi. Respon “melindungi” seperti ini tidak dapat disalahkan, karena memang ada sisi gelap dari globalisasi seperti kepekaan terhadap guncangan ekonomi, perdagangan manusia, penistaan pekerja migran, fake news, dan sebagainya.

Seyogyanya berbagai pengalaman itu mengharuskan pendekatan yang lebih berhati-hati dalam merespon globalisasi agar mendukung desain kebijakan yang lebih tepat untuk menjawab isu yang muncul, Artinya, pendekatan untuk menencukupi kebutuhan dalam negeri dengan harga yang terjangkau, termasuk dengan pengelolaan impor agar stok dalam negeri cukup dan harga stabil juga perlu ditekankan.

Orang yang sangat percaya dengan globalisasi atau universalitas disebut globalis. siapapun yang percaya bahwa batas-batas antar negara harus dihapuskan. Dengan demikian, siapapun bebas berdagang di negara manapun yang mereka sukai. Mereka bebas untuk berwisata ke negara manapun tanpa harus terhalang dengan aturan visa.  Mereka percaya, dengan dibukanya batas-batas negara, daya saing sebuah negara tersebut akan meningkat pesat, lapangan kerja terbuka lebar, dan konsumen bisa mendapatkan barang dengan harga lebih murah. Maka, dari definisi diatas, Globalis lebih banyak didominasi oleh korporasi global.

Kenapa Globalis bisa menjadi raksasa Industri dan berkuasa dimana-mana? Jawabannya adalah karena mereka berjamaah geng. Globalis adalah korporasi. 

Artinya, pemiliknya bukan hanya 1-2 orang. Mereka sangat cepat melakukan ekspansi karena akses yang mudah ke pasar modal. Sedangkan perusahan-perusahaan kita, terutama juga mindset bangsa kita, saking nasionalis-kecilnya, tidak mau berbagi untung dan mau berbagi rugi. Akhirnya jalan sendiri lah. Usaha sendiri. Kapan gedenya?..... (Bersambung)

"Disarikan dari pengarahan Bapak H. Abdullah Yazid selaku Ketua Pengurus KSPPS BMT BUS"

Redaktur