Sehatkan BMT Lain yang Tak Sehat

Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) BMT Bina Ummat Sejahtera (BMT BUS) berdiri pada 1996. Pendirinya, Abdullah Yazid. Pria asal Desa Ringin, Pamotan yang kini tinggal di Jalan Sunan Bonang nomor 91 Lasem.

Dia rela meninggalkan usaha berjualan kain untuk mendirikan BMT BUS. Misinya, menggerakkan ekonomi mikro demi kemaslahatan umat. Dia tak ingin rezeki yang didapat hanya untuk dirinya. Dengan mendirikan BMT BUS itulah, secara tak langsung juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

Krisis keuangan yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 tak terjadi di lembaga keuangan non-bank miliknya. Faktor utamanya, karena mayoritas anggota BMT BUS pelaku usaha kecil.

“Yang terdampak kan pengusaha besar karena faktor dollar. Sedangkan, di mikro hanya mengenal rupiah. Makanya ekonomi tetap jalan,” uangkapnya.

Awal berdiri hanya ada satu kantor di Jalan Untung Suropati nomor 16 Lasem. Dua tahun usai berdiri, satu cabang didirikan. Cabang pertamanya berada di Kecamatan Sluke. Setahun kemudian, dua cabang di pesisir timur kota Garam kembali didirikan. Yakni, cabang di Kecamatan Kragan dan Sarang. Setelah tiga cabang tersebut, hampir setiap tahun BMT BUS mendirikan cabang di kecamatan-kecamatan di Rembang.

Barulah pada 2003, untuk kali pertama BMT BUS mempunyai cabang di luar Rembang. Yakni, di Kecamatan Sayung, Demak. Pendirian cabang di Sayung berawal dari adanya BMT yang mengalami krisis manajemen. Tak hanya di Sayung, BMT itu juga mempunyai kantor cabang di Buyaran, Demak. Cabang itu kemudian juga ikut diakuisisi oleh BMT BUS, sekaligus dijadikan kantor cabang BMT BUS.

Hal serupa terjadi pada pendirian kantor cabang BMT BUS di Purwodadi dan Pecangaan, Jepara. Ada BMT yang mengalami krisis yang kemudian diambil alih oleh BMT BUS. Tak hanya di Pulau Jawa, BMT BUS juga merambah sampai ke Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Awal mula pendirian cabang itu pun sama. Akuisisi BMT bermasalah di wilayah tersebut.

“BMT ini kan gerakan. Tidak seperti lembaga keuangan konvensional lain. Mereka bergerak sendiri. Kalau kita gerakan, kalau satu ada masalah nanti memengaruhi BMT lain,” jelasnya.

Suami dari Endiyati ini sadar, tantangan usai mengakuisisi BMT bermasalah tidak ringan. Terutama dalam memulihkan kepercayaan masyarakat. Kuncinya ada di sumber daya manusia. Kemudian manajemen disesuaikan dengan standar BMT BUS.

Cabang pertama BMT BUS yang berada di luar Jawa Tengah didirikan di Tuban, Jawa Timur. Pendirian cabang itu bukan dari akuisisi BMT lain yang bermasalah. Karena ada rekan Abdullah Yazid yang menginginkan ada BMT di Tuban. Pertimbangan lainnya, di Kabupaten yang berbatasan dengan Rembang itu belum ada lembaga keuangan syariah. Tak tanggung-tanggung, cabang BMT BUS di Tuban berada di lima kecamatan.

Hingga kini, BMT BUS sudah mempunyai 116 cabang. Kantornya tersebar di tujuh provinsi. Yakni, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Yogyakarta, DKI Jakarta, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.

Sumber : Radar Kudus